PENGANTAR :
Surat Kolose ditulis oleh Paulus
kepada Jemaat Kolose pada waktu ia dipenjara di Efesus. Banyak ahli berpendapat bahwa
Efapras adalah orang yang memiliki peranan yang besar dalam pembentukan jemaat
Kolose bukanlah hasil langsung PI Paulus, namun Paulus perlu menulis surat
kepada mereka sebagai sesama orang percaya, karena mereka sedang dilanda oleh
ajaran-ajaran sesat ( Kolose 2 : 8).
Ajaran-ajaran sesat itu mengajarkan
bahwa seluruh alam semesta dikuasai oleh berbagai roh dan kuasa yang menakutkan
dan mengancam hidup manusia. Dalam hal inilah Paulus mengingatkan jemaat Kolose
untuk berpegang teguh pada iman kepada Yesus Kristus. Dengan demikian mereka
dapat bertumbuh dan berbuah karena kuasa Kristus mengalahkan segala kuasa yang
ada.
Ayat
6 – 7 (Hidup di dalam Kristus)
Dalam bagian ini Paulus ber-bicara
tentang hidup yang berakar, yang dibangun dalam Kristus. Hidup dengan menerima
Kristus berarti mengakui Kristus sebagai satu-satunya kuasa hidup, dan Dia
pulalah sumber kehidupan itu sendiri. Konsekuensi dari pengakuan itu adalah
bahwa di dalam kehidupan orang-orang percaya harus berpola pikir dan berbuat
sesuai dengan ajaran imannya (Injil). Hidup yang berlimpah dengan ucapan syukur
adalah buah dari iman yang sehat dan kuat, karena hidup dalam Kristus tidak
berada lagi dalam kuasa yang mengancam dan membinasakan, tetapi dalam kuasa
yang penuh penghiburan dan kasih.
Ayat
8 – 10 (Kristus dan Musuh-musuhNya)
Paulus menasehati jemaat Kolose agar
berhati-hati terhadap ajaran palsu tentang persembahan arwah nenek moyang dan
pemujaan terhadap roh-roh jahat yang diistilahkan Paulus dengan roh-roh dunia
yang mendatangkan kesia-siaan. Paulus menekankan bahwa hidup dalam Kristus
penuh dengan kekuatan yang mampu mengalahkan rasa takut dan kekuatiran hidup. Bahkan
oleh kasih karunia orang percaya diselamatkan karena iman, bukan hasil jerih
payah dan pekerjaan manusia melainkan pemberian Allah semata, oleh sebab itu
orang percaya jangan bermegah diri. Sebagai kepala segala pemerintahan dan
penguasa, Kristus memimpin dan memelihara hidup orang percaya dan melepaskan
mereka dari kuasa yang menghambat hubungan Kristus dengan dirinya.
Ayat
11-13 (Sunat di dalam Kristus)
Arti sunat di sini tidaklah dilihat
hanya sebagai sunat badani yang kemudian menjadi peraturan manusia. Di sinilah
orang Yahudi terjerumus dalam peraturan hukum buatan manusia sebagai alat untuk
memperoleh selamat. Pengertian sunat seperti ini tidak membawa kelimpahan
hidup, tetapi sebaliknya justru akan membawa beban yang lebih memberatkan
hidup. Alasannya adalah dengan pengertian semacam itu orang akan terjebak di
dalam peraturan agamawi yang ketat, dan kurang mensyukuri karunia yang telah
diberikan Allah. Sunat dalam arti yang sebenarnya adalah pengertian tradisi
suci, suatu kebiasaan yang perlu dipegang terus-menerus sebagai tanda kemurahan
Allah dan kebaikan Allah. Dalam hal inilah orang hidup dalam kelimpahan dan
mampu mengucap syukur. Dalam terang pengertian ini kita tidak perlu lagi harus
melakukan sunat badani, yang terpenting adalah meneruskan arti sunat rohani
yang diungkapkan dalam baptisan kita dalam hidup kita setiap hari. Menjadi
milik kepunyaan Allah berarti melakukan kehendak Allah yang nyata dalam hidup
yang memuliakan Allah dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri
(Matius 22: 37-40). Itulah hukum yang utama dan terutama yang harus menjadi
pegangan bagi orang-orang percaya.
Ayat
14-15 (Bebas dari tuntutan hukum)
Dengan dasar iman kepada Kristus,
Paulus menyaatakan bahwa berat yang ditanggung oleh manusia akitab dosa-dosanya
itu telah ditanggalkan. Sebagai gantinya orang-orang percaya memasuki hidup
baru, yaitu hidup dalam relasi yang benar dengan Allah. Pada akhir bagian ini Paulus menyatakan bahwa
dalam Kristus orang-orang percaya telah dimenangkan atas kuasa-kuasa yang akan
membinasakan hidupnya. Oleh sebab itulah orang-orang percaya harus bersaksi bahwa
iman dan kemenangan itu sebagai kebenaran yang juga harus dikabarkan pada orang
lain, dan yang terutama menjadi pegangan bagi hidup orang-orang percaya
sendiri. Kolose 2 : 6-15 ini menegur orang-orang percaya untuk meninggalkan
kepercayaan yang sia-sia dan menjadikan Kristus satu-satunya yang unggul dan
berkuasa atas hidup kita. Betapa seringnya dalam hidup kita walaupun sudah lama
menjadi Kristen tetapi lebih percaya pada kekuatan lain dalam menyelesaikan
masalah kita. Akibatnya kita jarang menggariskan kebijaksanaan-kebijaksanaan
atau hikmat yang berasal dari ajaran iman kita.
“UNTUK ITULAH
DALAM SURATNYA, PAULUS BERHARAP UNTUK TETAP BERPEGANG TEGUH PADA KRISTUS,
KARENA DALAM KRISTUS ADA KEPENUHAN HIDUP”



